Thursday, July 24th, 2014
Terbaru
Home » Umum » Sejarah Mata Uang Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

Sejarah Mata Uang Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan

bitcoinFlexmedia-Ada pepatah yang mengatakan, “Kebahagiaan tidak dapat dibeli dengan uang”. (Whoever comes up with that need to get his/her head checked!)

Apakah artinya uang? Segalanya. Power and influence. Uang adalah bentuk pengakuan konkrit atas segala hal yang dibuat manusia. Menurut saya pribadi, sukses lebih mudah diukur melalui berapa banyak nilai uang yang kita hasilkan selama menjalani hidup di dunia. (Bahkan kasarnya masuk surga pun butuh uang, entah melalui donasi sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan dan seterusnya)

Saya ingin sekali mengatakan “Gue bayar elo pakai beras boleh?” untuk mereka yang sering mengatakan “Money is not an object for me”.

Namun pada suatu masa, beras pernah menjadi alat mengukur jumlah kekayaan di feodal Jepang pada abad ke-17. Koku adalah satuan unit yang digunakan untuk mengukur jumlah beras yang dimiliki tiap kabupaten, provinsi, dan seterusnya. 1 Koku sama dengan 150 kg beras. Di masa feodal Jepang, unit Koku juga digunakan sebagai jaminan dalam pendanaan. Makna Koku pun berubah dari hanya unit satuan menjadi di zamannya, karena bagi samurai yang berdomisili di daerah pegunungan dimana beras sulit di produksi, maka mereka dibayar dengan sejumlah Koku sesuai dengan jabatan dan tanggung jawabnya.

Jika kalian menganggap Koku saja sudah cukup aneh, coba kalian lihat daftar satuan denominasi dibawah ini:

Tembakau

Pada zaman kolonial Amerika, uang logam hanya sedikit peredarannya. Maka dari itu beberapa daerah menggunakan tembakau (yang merupakan ekspor utama kolonial Amerika pada waktu itu) sebagai alat pembayaran. Unit menghitungnya dimulai dari 1 pon tembakau dan per satu pon sama dengan 30 sen sterling. Pembayaran dengan unit tembakau seketika dihentikan saat kolonial Amerika mulai mengimpor perak dan emas untuk memenuhi kebutuhan akan satuan yang lebih stabil bagi perdagangannya.

Garam

Garam menjadi nilai tukar mata uang yang sangat populer di Afrika Timur dan Gurun Pasir Sahara. Bahkan di Ghana pada masa keemasannya di zaman Bonoman, harga emas mengikuti harga garam di pasaran. 1 ons garam untuk 1 ons emas, dan sebaliknya. Namun, di masa itu mata uang berbasis “makanan” sering ditemukan di berbagai belahan dunia. Penduduk Aztec dan Maya di Mexico menggunakan biji coklat sebagai alat pembayaran.

Kulit Kerang atau Wampum

Jika penghuni kolonial Amerika menggunakan tembakau sebagai salah satu alat pembayaran dan mengukur kekayaan, maka penduduk asli Amerika menggunakan kulit kerang yang dirantai menjadi kalung, gelang, dan lainnya, yang disebut Wampum.

Wampum umumnya digunakan untuk pernikahan, dimana pengantin wanita biasanya mengenakan wampum sebagai simbol ‘kesiapan’ menikah, dan sebagai adatnya, pengantin pria memberikan wampum kepada keluarga wanita sebagai ‘tanda jadi’.

Tentunya berjalan dengan waktu, populasi penduduk asli Amerika menurun dan penggunaan wampum digantikan dengan mata uang perak dan emas pada abad ke-18.

Bitcoin

Bitcoin atau sering disimbolkan dengan “฿” (BTC) telah menarik perhatian banyak orang di dunia maya. Bitcoin adalah unit pembayaran yang masih dalam tahap eksperimental yang rencananya memudahkan pembayaran yang dilakukan setiap orang bertransaksi di dunia maya tanpa menggunakan medium bank.

Bagi kalian yang belum pernah mendengarnya, Bitcoin bukanlah PayPal atau bentuk e-wallet lainnya, karena transaksi tidak melewati bank, melainkan peer to peer yang ditetapkan dalam sebuah konsensus penggunanya. Peredaran Bitcoin pun dibatasi dalam konsensus tersebut sehingga menjadikannya mata uang sendiri yang dapat ditukarkan dengan mata uang asli di seluruh dunia. Meskipun tidak di back oleh entitas manapun, Bitcoin sudah meraih total market cap of 100 million US dollars.

Pada bulan Agustus 2012, nilai tukar 1 BTC = 10 USD.

Nantinya pada tahun 2140, Bitcoin akan juga memiliki bentuk fisik mata uangnya dalam bentuk koin, dan merilisnya dalam jumlah terbatas sebanyak 21 juta koin.

Post Terkait :

About Anisatul Khikmah

close
Facebook Iconfacebook like buttonTwitter Icontwitter follow button