Contoh Karangan Paragraf Deduktif dan Induktif dan Jenis Karangan Lainnya

Pelajaran mengarang sudah diberikan sejak masih di bangku SD. Sejak saat itu pula kita mungkin sering diminta untuk mengerjakan tugas mengarang, misalnya membuat contoh karangan deduktif, induktif, atau yang lainnya.

Mengarang adalah membuat karya tulis, untuk mengemukakan gagasan, lalu menyampaikannya dalam bentuk tulisan, agar dipahami oleh mereka yang membacanya.Ada 5 jenis karangan, yaitu karangan narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi dan persuasi. Berikut dipaparkan penjelasan dari masing-masing jenis karangan tersebut.

Narasi

Suatu karya tulis narasi pada dasarnya adalah tulisan yang bercerita. Jadi, tulisan itu berusaha menjelaskan sesuatu secara kronologis. Suatu kisah atau peristiwa diceritakan dalam satu urutan waktu. Pada narasi ada tokoh dan kejadian serta konflik yang dialami oleh tokoh tersebut. Semuanya itu dijelaskan dalam suatu alur (plot).

Alur bisa bermacam-macam, progresif (atau alur maju, yaitu kejadian dijelaskan runut dari awal sampai akhir), flash back (disebut juga alur mundur, pemaparan dimulai dari akhir kejadian, lalu kembali lagi ke awal dan prosesnya sampai akhir cerita), dan alur campuran (di sini penulis mencampurkan antara progresif dan flash back).

Karangan narasi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu narasi espositoris, yang merupakan karangan yang bertujuan untuk memberikan informasi. Contoh karangan narasi espositoris misalnya biografi dan berita.

Sedangkan narasi sugestif adalah tulisan narasi yang dapat menyebabkan timbulnya daya khayal pada diri yang membacanya. Yang termasuk narasi sugestif misalnya cerita pendek dan novel.

Suatu tulisan narasi, baik fiksi maupun non-fiksi sangat membutuhkan 5W + 1H, yaitu What (apa yang terjadi), Who (siapa yang mengalami), When (kapan kejadian tersebut terjadi), Why (mengapa bisa terjadi) dan Where (di mana kejadiannya), serta How (bagaimana kejadiannya). Jika tulisan narasi itu berupa fiksi, maka unsur-unsur 5W + 1H benar-benar merupakan hasil imajinasi si penulis. Namun jika berupa kisah non-fiksi, maka 5W + 1H adalah data-data yang ditemukan di lapangan.

Deskripsi

Karangan deskripsi adalah karangan yang menjelaskan dengan detail, sehingga siapa saja yang membacanya dapat merasakan seolah-olah melihat, mendengar, atau bahkan mengalami langsung kejadian yang dituliskan itu. Apa yang dituliskan dalam karangan deskriptif ditulis sedemikian rupa, semua indera si pembaca seakan-akan langsung terlibat di dalamnya.

Tulisan deskriptif bisa merupa suatu deskriptif spasial, yaitu hanya menjelaskan detail mengenai satu bagian dari sebuah cerita. Ada pula deskriptif subjektif, yang menuliskan sesuatu berdasarkan penafsiran si penulis. Yang berikutnya adalah deskriptif objektif, yang menjelaskan keseluruhan cerita sebagaimana adanya. Dalam menulis suatu karya tulis deskriptif, diperlukan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan adalah data-data yang sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan sebelumnya. Data dapat berupa penelitian atau pengamatan.

Eksposisi

Ini adalah karangan yang menjelaskan mengenai sesuatu. Seseorang membuat karya tulis atau karangan eksposisi biasanya untuk memberikan pengetahuan kepada para pembacanya. Agar tulisannya semakin jelas, tulisan eksposisi bisa dilengkapi dengan berbagai tambahan, misalnya gambar atau grafik.

Hampir sama seperti deskriptif, karya eksposisi juga membutuhkan data. Data-data yang dikumpulkan harus sesuai dengan tema dan tujuan penulisan yang akan dilakukan. Tulisan-tulisan mengenai proses terjadinya sesuatu atau manfaat suatu benda adalah contoh-contoh karangan eksposisi.

Argumentasi

Sementara itu, karangan deskriptif argumentasi adalah karya tulis yang dibuat untuk membuktikan bahwa suatu kesimpulan atau pendapat adalah benar. Pembuktian itu dilakukan dengan memberikan data dan fakta pendukung. Dalam tulisan deksriptif argumentasi juga dapat melibatkan opini.

Tulisan argumentasi biasanya dibuat agar pembaca dapat menerima sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh penulis. Walaupun penulisnya tidak ingin agar semua orang mempercayai atau meyakini pendapatnya, namun setidaknya dia sudah memberikan data dan fakta yang berhubungan dan mendukungnya.

Persuasi

Sedangkan persuasi adalah karangan yang ditulis dengan tujuan agar pembaca terpengaruh untuk melakukan sesuatu, sesuai dengan keinginan si penulis. Di sini juga sangat diperlukan data dan fakta yang mendukung, agar pembaca benar-benar mengikuti apa yang diinginkan penulis.

Karangan persuasi misalnya advertorial atau kampanye, yang memang bertujuan agar para pembaca mau menggunakan suatu produk atau memilih kandidat tertentu.

Paragraf

Hampir semua karya tulis dibentuk dari beberapa paragraf. Paragraf sendiri adalah beberapa kalimat yang disusun agar menjadi satu jalinan yang utuh. Paragraf mengandung sebuah makna dan ada sesuatu yang menjadi gagasan utama di sana. Dilihat dari letak gagasan utama dalam sebuah paragraf, maka paragraf terdiri menjadi 2 macam, yaitu paragraf induktif dan paragraf induktif.

Paragraf induktif

Paragraf induktif adalah paragraf yang meletakkan peristiwa-peristiwa khusus di bagian awal. Peristiwa-peristiwa khusus itu disusun sehingga akhirnya menuju pada suatu kesimpulan umum. Paragraf induktif memiliki ciri-ciri seperti diawali dengan peristiwa khusus dan kesimpulan berada di akhir paragraf, yang disusun berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus.

Paragraf induktif terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu generalisasi, analogi dan sebab akibat. Yang dimaksud dengan generalisasi adalah menarik kesimpulan umum dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang telah diamati. Dapat dikatakan bahwa generalisasi adalah sesuatu yang berlaku umum atau yang terjadi pada sebagian besar subjek yang diamati.

Analogi adalah kesimpulan yang diambil dari beberapa hal khusus yang memiliki kemiripan atau kesamaan.

Sedangkan sebab akibat adalah proses berpikir yang diawali dengan mengemukakan fakta-fakta. Fakta-fakta ini adalah sebab, yang kemudian sampai pada sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini adalah akibat. Paragraf itu disebut induktif karena bersifat induksi. Induksi adalah sebuah metode pemikiran yang berawal dari hal-hal khusus untuk menentukan sebuah kesimpulan atau hukum.

Contoh paragraf induktif misalnya:

Produk pencuci piring itu mengandung bahan yang sangat bagus jika digunakan untuk piring kotor, terutama yang terkena lemak. Dengan sedikit saja, sabun itu dapat menghilangkan bekas lemak yang menempel di piring atau alat dapur lainnya. Selain itu, baunya juga tidak menempel, sehingga tidak akan terasa bau sabun saat piring itu akan digunakan kembali. Harganya juga terjangkau dan bisa dibeli di warung-warung. Itulah sebabnya, produk pencuci piring tersebut sangat laku di pasaran.

Paragraf Deduktif

Paragraf deduktif kebalikan dari paragraf induktif. Jika kesimpulan pada paragraf induktif berada di akhir paragraf, maka paragraf deduktif justru dimulai dari pernyataan yang bersifat umum, yang dilanjutkan dengan hal-hal khusus. Deduktif sendiri berarti bersifat deduksi karena dimulai dari yang umum, yang kemudian dikembangkan dengan hal-hal yang khusus. Hal-hal khusus dalam paragraf ini misalnya rincian, penjelasan, contoh, atau bukti.

Contoh paragraf deduktif misalnya:

Anjing adalah hewan yang setia. Sejak jaman dahulu, anjing selalu mengikuti majikannya ke mana-mana. Anjing akan melindungi majikannya, jika ada yang mengancam. Seekor anjing bahkan tidak memedulikan nyawanya sendiri ketika melindungi majikannya. Anjing juga tidak akan meninggalkan majikannya jika terjadi bencana. Dia akan terus berada di sampingnya sampai anjing itu memastikan bahwa tuannya baik-baik saja, walaupun untuk itu dia harus merasa kelaparan.

You May Also Like